LETTERS TO JULIET : ROMANTIC MOVIE FROM HOLLYWOOD TANPA ADEGAN INTIM



Kebanyakan film-film romantis bikinan Hollywood selalu saja mengetengahkan kisah cinta dimana pemeran utama pria dan wanitanya berakhir di TEMPAT TIDUR intinya cenderung memaparkan CINTA sebagai sebuah KEDEKATAN FISIK sebagai contoh hmm….yaaah film-film yang bertemakan ONE NIGHT STAND, baru kenal sebentar eh…dah sleeping together so mana feeling-nya?! HAMBAR banget kan?! that’s why I love Asia, biarpun paham seks bebas itu sepertinya sudah lumrah di Jepang, Korea atau Taiwan yang juga digambarkan dalam film-film mereka setidaknya mereka tetap mendahulukan emotional feeling daripada physical desire, hanya sedikit film-film romantis buatan Hollywood yang mengetengahkan hubungan berdasarkan KEDEKATAN EMOSIONAL lebih dulu, mencintai karena chemistry and personalities bukan karena she has big boops or that man is so HOT. Salah satu dari sedikit film itu, adalah LETTERS TO JULIET.



Letters to Juliet berisikan pencarian atas cinta sejati-nya Claire yang dulu dia tinggalkan pada tahun 1950-an, Claire menulis sebuah surat tentang kegalauan hatinya di dinding Letters To Juliet di Verona, Italia. Surat itu kemudian ditemukan oleh Sophie, cewek yang sedang liburan bersama tunangannya, Victor, namun jadi lonely karena Victor terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, (this girl has big boops), yang kemudian membalas surat itu dengan kata ”WHAT IF”, yang intinya tidak ada kata terlambat untuk cinta, biarpun kau telah menua. 

Balasan surat itu membawa Claire ke Verona dengan ditemani cucunya, Charlie (and this man is definitely HOT) untuk menemukan cinta yang hilang. Pertemuan Charlie yang anti-romantic person dan Sophie yang so romantic person membuahkan pertengkaran-pertengkaran lucu nan cerdas (two thumbs up buat yang nulis skenario..) mereka mempertengkarkan Shakespeare, menilai kearoganan manusia dan menahan diri untuk tidak jatuh cinta hanya karena mereka mengagumi bakat dan kepintaran masing masing. 

Bagaimana Charlie dan Sophie menjadi dekat, begitu terlihat natural, dia mengagumi Sophie namun tak ingin nih cewek jadi ”besar kepala”, ketidak-romantisannya justru menjadikannya romantis (i’m melted because of this guy!..), dan Sophie yang masih terikat tali pertunangan-pun tetap ”menjaga diri” nya dengan baik.

It’s so cool when dua orang yang sepertinya menemukan soulmate-nya menahan diri untuk tidak jatuh hati padanya. 



Charlie, tidak jatuh hati karena big boops-nya Sophie (tidak ada line yang menggambarkan kecintaannya pada fisik Sophie kecuali pas di ending waktu Sophie datang ke Pesta Pernikahan Claire, he said ”you’re beautiful” hal ini wajar saja selain karena si Sophie berdandan, mereka dah lama banget ga ketemu) namun tergambar dengan jelas bahwa pria lulusan Oxford ini mencintai karena menemukan kebaikan dalam diri Sophie, menemukan bahwa dia seorang cewek yang smart dan seorang calon penulis hebat, begitupun halnya dengan Sophie, (apa karena jaim dan dah punya tunangan) dia seperti tidak tergoda karena Charlie is so damn HOT, well…ada juga sih scene yang akhirnya si Sophie menyadari kalo ternyata Charlie is a handsome and a hot man hehe namun yang bikin asik, dia menahan dirinya untuk tetap jaim (it’s so sweet how Amanda Seyfried can show a perfect facial expression not to get tempted by him..^^).

Setelah Claire bertemu dengan sang Pangeran berkuda Putih-nya, Sophie dan Charlie harus berpisah. Akhirnya gimana??…hehe nonton gih^^




Konsep HATE turns to LOVE memang standar dan tak terhitung banyaknya film-film yang memakai konsep ini (apalagi film dan serial dari Asia ckckck buanyak sekaleee...) namun Letters to Juliet berhasil mengangkat konsep ini dengan porsi yang ngepas, mereka ga benci benci banget gitu, hanya saling merendahkan saja hehe biasalah kalo ada 2 orang pinter ketemu and ngobrol pastinya rada rada bersikap arogan dan saling menunjukkan kesalahan masing masing, sekali lagi two thumbs up buat yang nulis skenario, sederhana tapi cerdas.

Scene-scene yang indah menghiasi film ini, Verona, Italia, kebun Anggur, Rumah Juliet, jalanan dan gedung-gedung khas eropa hmm…benar benar membuat kita ingin sekali pergi ke Italia menyusuri ke-gothic-an kota-kotanya.

Castingnya pun oke, Charlie (Christopher Egan), yang aksen Inggrisnya begitu kental bener bener bikin jatuh hati padahal nih cowok berasal dari Australia..ckckck SALUT dah (saia emang seneng banget sama cowok yang punya aksen Inggris!!), cowok yang tidak romantis emang siiiip dah. Sophie (Amanda Seyfried) juga sama bagusnya, dia tidak menggumbar sensualitas dan keseksian, baju-bajunya di film ini yah ”lumayan sopan” lah untuk ukuran Hollywood (nyang ngurusin kostum di film ini mesti diacungi jempol!).

Ending film ini mungkin sudah bisa ditebak sejak awal, secara si Victor ga terlalu cakep hihihihi, biarpun pernyataan cinta Charlie mesti disertai adegan ROMEO and JULIET look like namun tetap saja saia rasa Charlie tidak kehilangan imagenya sebagai cowok yang anti-romantic…damn he is so perfect!!(nah nah koq malah jadi spoiler ending seh ckckck i found my self inconsistent ‘-__-)



Nah kalo mau nonton film  bikinan Hollywood yang tidak menggumbar adegan intim tapi emotional feeling-nya begitu POWERFUL terasa, guess u should watch this movie, dijamin trenyuh menyentuh….plus dihiasi Soundtrack yang easy listening….menambah ke-sweet-an film ni.

Share Peace and Love to the world by mochan^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: