SANG PENARI (THE DANCER): Menari nari di ajang Academy Awards 2013?!


 “Ronggeng iki duniaku, Sus. Wujud dharma baktiku untuk Dukuh Paruk..”

SP4

Waktu tau Srintil akan “menari” untuk pertama kalinya di layar kaca SCTV, saya tentu saja excited. Secara saya ketinggalan kesempatan buat nonton langsung di bioskop. Saya bela2in tidur lebih awal dan nyalain alarm jam 10 malam.

Adegan film dibuka dengan penampilan Happy Salma yang berperan sebagai ronggeng terakhir di Dukuh Paruk sebelum malapetaka tempe bongkrek terjadi. Malapetaka yang kemudian menyebabkan Dukuh Paruk mengalami “paceklik” dalam arti sepi suara calung, celoteh nakal dan tarian ronggeng yang menjadi denyut kehidupan Pedukuhan gersang itu. Srintil (Prisia Nasution) gadis yang dianggap mendapat indang ronggeng, memiliki bakat dan passion menari berkeras menjadi ronggeng selanjutnya. Berusaha berbakti kepada desa dan sang leluhur, Eyang Secamenggala. Dan sebagai “penebus dosa turunan”, karena sang ayahlah pembuat tempe bongkrek, yang menyebabkan sebagian besar penduduk Dukuh Paruk menemui ajal.

Alur film berjalan cukup cepat, dalam arti penonton tidak dibuat bosan dengan adegan2 tidak perlu. Singkat cerita, Srintil yang akan menjadi ronggeng harus menjalani ritual bukak klambu. Dan Rasus, dalam keputusasaaannya memilih untuk ikut Sersan Binsar menjadi anggota tentara.

Selama saya menonton sampai akhir, Sang penari adalah film yang sangat indah. Dari segi tata suara, pengambilan gambar, akting pemain dan permainan emosi yang luar biasa. Extraordinary. Untuk kualitas film Indonesia sekarang. Banyak juga reviewer yang mengatakan film ini sebagai one of all time best. Mungkin juga. Saya kan nggak ngerti2 amat film.

Penampilan Prisia Nasution sebagai Srintil menurut saya sangat baik. Saya juga tidak setuju dengan orang2 yang membanding2kan penampilan Prisia dengan Happy Salma. Untuk saya berbeda. Happy Salma menampilkan ronggeng senior yang auranya berkesan mature, elegan dan enigmatic. Terlihat dari tarian yang dia bawakan. Sedangkan Srintil adalah newbie. Aura yang ditampilkan Srintil menggambarkan jiwa muda yang lebih bergejolak, ceria, kenes (centil), dan enerjik.

SP3

Hanya mungkin kekurangannya Prisia dibanding Happy Salma adalah, Happy Salma is a dancer in real life. Jadi gerakannya memang gerakan seorang penari. Mungkin kalau Prisia diberi waktu reading lebih lama untuk mendalami seni tarinya akan jauh lebih indah. Mengingat dalam novelnya Srintil is a natural born dancer. Di usia sebelas tahun ia sudah bisa melempar sampur dengan sempurna. Gerakan yang sulit dilakukan oleh ronggeng dewasa sekalipun. Tetapi kelebihan Prisia, dia bisa menari dengan ekspresi seperti sedang trance, kerasukan indang ronggeng. Saya cukup merinding liat ekspresinya. Hanya menurut saya, Srintil yang di novel tidak selembut penampilan Prisia di film. Srintil di novel lebih extrovert dan fierce.

Penampilan Nyoman Oka Antara sebagai Rasus juga sangat menarik. Karakter Rasus digambarkan berbeda dengan di novelnya. Rasus di film lebih gahar dan outspoken. Dalam novelnya, Rasus tidak pernah dengan jelas menyatakan kepada Srintil ketidaksukaannya terhadap pilihan Srintil sebagai ronggeng, dan tidak pernah mengajak Srintil ikut dengannya. Rasus mencintai dan membenci dalam diam. Mencintai Srintil, membenci pilihannya menjadi ronggeng, sekaligus menghormati ronggeng sebagai tradisi leluhur, semua dilakukan diam-diam. Pergi juga diam-diam. Sangat ambigu dan melankolis. Oka memberikan sentuhan berbeda terhadap tokoh Rasus, seperti juga karakter Srintil yang diperhalus. Rasus di film lebih laki2, dan berani mati.

Penampilan lain yang berkesan adalah Slamet Rahardjo dan Dewi Irawan, sebagai suami istri Kartaredja sang dukun ronggeng. Landung Simatupang sebagai Sakarya, Lukman Sardi sebagai antek PKI, Bakar yang menyebabkan Dukuh Paruk menjadi suspect komunis. Tio Pakusadewo berperan sebagai Sersan Binsar (karakter originalnya dalam novel adalah Sersan Slamet).

“Jenganten, njoget ya…. njoget…”

Saya sangat terkesan dengan penampilan Hendro Djarot sebagai Sakum. Sang penabuh Gendang, Orang yang sejak awal mendampingi Srintil meronggeng. Dialah satu2nya yang dengan tulus memanggil Srintil dengan sebutan “Jenganten”. Adegan yang bikin saya trenyuh adalah saat Sakum yang renta dan rabun sedang membujuk Srintil untuk menari lagi. Saat Srintil dilanda kegalauan dan nyaris kehilangan akal sehat saat ditinggal Rasus.

Sebelumnya harus disadari bahwa Bahasa Novel dan Bahasa Film itu berbeda. Sang Penari akan menjadi film yang nyaris tanpa cela, andaikata saya nggak membaca dan jatuh cinta sama novelnya lebih dulu. Salut buat Ifa Isfansyah, dan segenap jajaran kru film ini. Penggambaran Dukuh Paruk di film terlalu subur, kurang gersang. Rasus dan Srintil yang seperti bertukar karakter, dan ending yang kurang kejam dibanding novelnya. Di akhir film, diceritakan Rasus memberikan kembali keris yang pernah ia berikan ketika Srintil akan menjadi ronggeng. Kemudian Srintil menari dengan bebasnya diiringi oleh Sakum. Ia berhasil membebaskan diri dari belenggu hidup dan menjadi penari sesungguhnya.

“Aku ra ngerti.. Mung njoget.” 

(Srintil, saat diinterogasi di kamp militer terkait keterlibatannya dengan komunis selaku motor Gerakan 30 September)

Yang masih mengganjal di hati saya adalah jika buku ini merangkum Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, maka buku ketiganya yang berjudul Jantera Bianglala tidak banyak dibahas atau malah nyaris tidak dibahas dalam film. Padahal, konflik emosi karakter Srintil yang paling dahsyat ada di buku ketiga. Dimana dia merasa tidak berharga sebagai bekas ronggeng, dan tahanan politik. Srintil di film seperti tidak menunjukkan post traumatic syndrome selepas menjadi tapol di kamp militer seperti dalam novel. Penyebab sebenarnya Srintil menjadi tidak waras yaitu laki2 impoten bernama Bajus yang berniat menjualnya ke pria kaya dan mengata-ngatai Srintil bekas PKI dalam novel pun tidak dibuat dalam film.

Kalau Pak Ahmad Tohari selaku penulis Trilogi ini merasa puas atas interpretasi Ifa Isfansjah selaku sutradara, maka tidak ada alasan saya untuk tidak puas. Jika dilihat sebagai karya seni yang terpisah dari novel, film ini memang sebuah film yang sangat indah dan berkualitas. Masalah penggunaan dialek Banyumasan, ngapak yang dibilang banyak reviewer agak dipaksakan menurut saya termaafkan. Karena mainly, film ini memang berbahasa Indonesia. Sepuas-puasnya saya dengan film terinspirasi pasti akan jauh lebih dahsyat jika film ini dibuat sebagai adaptasi. Menurut hemat saya yg buta film ini… Hehehe.

 

 

Faktanya film ini mewakili Indonesia di perhelatan Academy Awards 2013. Meskipun saya sendiri tidak dapat memutuskan apakah film ini “oscar material”, sebagai anak bangsa tentu saya akan dukung The Dancer/ Sang Penari.

REVIEWED BY Raissa Amelinda 

Satu Tanggapan

  1. Great review!!
    Telat nonton film ini tapi harus diakui filmnya memang bagus dan didukung oleh jajaran castnya yang kuat dan hebat..
    semoga ke depannya banyak film dalam negeri yang bagus seperti ini

    sis.. tukaran link donk.. link saya nih.. http://eigarebyu.blogspot.com/
    Beda loh sama yang satu lagi😉

    agak dibaca dan komen ya biar eksis dikit😀

    sankyuu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: