FILM HABIBIE & AINUN : CINTA INDAH YANG BERHIASKAN IKLAN


image

Kalau ditanya film Indonesia fenomenal 2012 selain The Raid? Jawabannya jelas Habibie dan Ainun. Film yang ditonton 2.1 juta orang dalam waktu dua minggu ini sebenarnya diangkat dari Memoar yang ditulis sendiri oleh sang pelakon sejarah Bapak Bacharuddin Jusuf Habibie. Mantan Presiden Indonesia yang menggantikan Jend. Soeharto setelah krisis ekonomi 1998. Buku ini ditulis beliau sebagai bentuk cinta kepada almarhumah sang istri Ibu Hasri Ainun Habibie.

Jujur, awalnya saya underestimate film ini. Kenapa? Alasannya lumayan konyol. Dulu Pak Habibie dan istri penggemar berat sinetron Cinta Fitri, dan bilang kalau Fitri-Farrel seperti mereka. Saya jadi nggak tertarik untuk mengikuti kisah cinta mereka. Bukunya pun saya nggak beli. Nonton pun setelah, temen kantor pada rebut meyakinkan saya untuk nonton. Jadi jelas ketika nonton, Saya nggak punya ekspektasi apa2 terhadap film ini.

image

Adegan dibuka ketika mereka masih satu SMP, dimana Habibie dan Ainun merupakan murid kesayangan guru. Ainun adalah idola cowok2 di sekolah saat itu. Mereka diminta mengungkapkan teori mengapa langit berwarna biru, dan Ainun menjawab dengan lugas. Penonton dibuat tertawa dengan adegan dimana Habibie ditantang teman2nya untuk berani bilang Ainun jelek. Dan Rudy (panggilan Habibie) menyanggupi dan langsung mengatakan,”Eh, Ainun. Kamu itu jelek, gendut, item kayak gula jawa.”

Singkat cerita sepulangnya dari Jerman, Rudy mengunjungi rumah Ainun dan terkesiama karena si gula jawa sudah berubah jadi gula pasir yang dirubungi semut2. Habibie menginginkan Ainun. Begitu juga Ainun tidak bisa membohongi diri bahwa dia juga terpesona oleh laki2 berlogat “unik” yang banyak menghabiskan hidup di seberang lautan. Mereka menikah. Menjalani jatuh bangun kehidupan rumah tangga sejak Habibie bekerja dengan bayaran rendah di Jerman, mengalami peningkatan karir, kembali ke Indonesia dan menjadi Menristek, diangkat menjadi Wakil Presiden, kemudian menjadi Presiden, Pensiun, hingga pada akhirnya maut memisahkan mereka. Ainun meninggal karena kanker ovarium stadium lanjut. Tentu dengan segala intrik dunia politik Indonesia tahun 1998-2000 termasuk hal yang selalu diungkit tentang kepemimpinan Habibie: Referendum Timor Leste.

Mulai dari mana ya….

image

Akting. Reza Rahadian is enchanting. Semua gesture, cara bicara, logat dan penggunaan Bahasa Indonesia bercampur aksen Jerman khas Pak Habibie ditampilkannya dengan sangat baik. Sayang permainan emosinya kurang diimbangi oleh Bunga Citra Lestari yang berperan sebagai Ainun. Bunga Citra flat di awal, dia baru mulai menawan di pertengahan hingga akhir film. The good thing is there were lots of sparks and chemistries between this couple. Penonton jadi bisa merasakan cinta yang dikatakan Pak Habibie sebagai sesuatu yang indah, murni dan sempurna.

Sinematografi. Overall cukup indah. Tapi, terganggu dengan editan musim salju yang kentara sekali, penggabungan cerita film dan dokumentasi sejarah ketika penerbangan pertama N-250 Gatotkaca yang kurang menyatu, daaaan yang saya sebut di judul tadi. IKLAN. Inilah kelemahan film yang punya budget dan sponsor banyak. Sebenarnya nggak masalah apabila penempatannya tepat. Di awal, soal sirup markisa saya nggak terlalu perhatikan. Tapi masuk Chocolatos di tahun 1990-an. Hello…. Chocolatos belum ada di tahun itu. Dan di-zoom pula. Aneh.

Tapi foto Reza Rahadian yang dipajang bersama Pak Harto sebagai presiden dan wakil presiden sukses mengundang gelak tawa penonton.

Make-upnya kurang sukses. Habibie dan Ainun kurang terlihat “tua” untuk setting tahun 2000-an sehingga seperti tidak jauh jaraknya dengan anak2 mereka. Kacamata Bunga Citra Lestari untuk penerbangan N-250 kurang vintage. It’s too modern while the scene was about 1990’s.

Credits for Hanung Baramantyo and Teuku Rifnu Wikana. Mereka tampil maksimal memerankan antagonis walaupun hanya tampil sebentar.

Tapi dibalik semua flaws di atas film ini layak ditonton. Terutama bagi tearjerker junkies, melodrama junkies yang suka berlinang airmata. Atau buat pasangan yang style relationshipnya romantis, Saya jamin bisa menikmati film ini. Kalau saya, jujur. Agak menahan kesabaran karena alurnya dibuat perlahan. Apakah Saya meneteskan air mata? Tidak. Tapi saya merasakan sedihnya. Berkaca-kaca cukuplah untuk film ini.

There’s something sweet yet awkward. Kissing scene. Ada dua kali kissing scene. Yang satu terasa seperti drama Asia (jenis ciuman manis yang hanya nempel), yang satu (scene kissing di Aachen, Jerman) feels like Hollywood. Sweet? Ya memang kesannya begitu. Awkward? Film Indonesia dan kissing scene masih aneh buat saya sampai sekarang. Even sudah dimulai di eranya Dian Sastro dengan AADCnya.

But, honestly speaking. It’s cute.

7 of 10 stars.

Oia, agak OOT. Ada bocoran. Memoar percintaan Ir. Soekarno juga sedang dalam proses dibuat film. Direncanakan tayang 2013 dengan judul 9 Reasons. Soekarno dan 9 wanitanya serta 9 alasan menikahi mereka. Mariana Renata akan berperan jadi Sang Madame de Syuga Dewi Soekarno, Happy Salma sebagai Inggit Garnasih, Revalina sebagai Fatmawati. Didukung 5 aktris cantik lain dan Tio Pakusadewo sebagai Soekarno. Trailernya sudah bisa dilihat di youtube. Saya lebih nunggu film ini sih sebenernya.. *kedip2* Mungkin genre film seperti ini mulai dipertimbangkan punya potensi disukai, dan jadi opsi berkualitas ditengah serbuan film horror berbau sex di perfilman Indonesia.

REVIEWED BY @amelindaraisa for http://www.boutasia.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s